Posted on

Hal yang membuat seorang penulis insecure 

Tentang Insecure

Hidup di tengah era gempuran budaya pamer memang menyisakan beban tersendiri. Hal yang tak luput dari makin sat set-nya informasi adalah munculnya rasa insecure. Keminderan melihat berbagai pencapaian orang lain yang terlihat di sosial media memang akhir-akhir ini sering dijumpai, imbasnya adalah diri sendiri merasa kurang pede akan skill dan potensi yang dimiliki.

Rasa insecure itu bahkan menyerang para pekerja kata, alias penulis. Mereka yang bisa menghasilkan uang dari ketikan di jari-jarinya sampai menghasilkan karya bercuan juga manusia, wajar jika rasa minder itu menghampiri. Insecure-nya seorang penulis juga tak jauh-jauh dari beberapa hal berikut. Oleh karenanya penting bagi penulis untuk mempunyai prinsip dan tujuan supaya tidak mudah oleng di tengah jalan.

Sebenarny apa yang membuat seorang penulis tidak percaya diri

1. Penolakan

Sudah menyelesaikan tulisan sampai begadang, mengabaikan chat dari sayang, giliran dikirimkan ke media malah yang diterima email penolakan. Sungguh menyesakkan hati saudara-saudara. Berbagai penolakan dari media ini juga salah satu sumber insecure para penulis, entah bagi penulis pemula maupun yang sudah berkecimpung lama di dunia kepenulisan.

Untuk mengatasi rasa insecure karena tulisan yang tertolak, sebaiknya sebelum mulai menulis tanamkan rasa cinta pada dunia tulis menulis itu sendiri. Jika sudah muncul rasa cinta, maka beragam penolakan dari media tidak akan membuat rapuh, justru akan semakin menjadi pemacu untuk maju terus.

Untuk menghindari sakit hati karena ditolak, sebagai penulis juga sebaiknya menerapkan prinsip tulis, kirim dan lupakan. Atau ada juga seperti membuat sugesti dan penghiburan pada diri sendiri, jika tulisan ditolak itu bukan berarti tulisan kita jelek, mungkin saja karena pihak redaksi sedang masuk angin jadi kurang teliti saat menyortir sehingga tulisan kita terlewati, atau bisa juga karena tulisan kita lebih layak tayang di media besar dan berbagai cara menghibur diri yang lainnya. Dengan catatan tetap memperbaiki tulisan dari waktu ke waktu.

2. Minim Pembaca

Hal ini yang paling sering dialami penulis pemula. Sudah susah payah siang malam kerja lembur bagai unicorn untuk membuat tulisan yang menurutnya memukau, setelah tulisan itu dipublikasikan justru hanya segelintir orang saja yang mampir membacanya. Minimnya para pembaca ini disebabkan oleh beberapa hal, ada yang kurang promosi dengan alasan malu, ada yang menerbitkannya di media yang baru mulai merintis atau kurang mengikuti tren pasar.

Untuk menyiasati permasalahan ini adalah coba untuk survey lebih dahulu hal apa yang sedang ramai diperbincangkan secara tajam. Kemudian barulah tarik kesimpulan yang berbeda sendiri dan rajin-rajinlah untuk menyebarkan tulisan di forum menulis dan sosial media. Contohnya saat akan menulis novel fiksi di platform online, pelajari dahulu minat pasar pengguna platform tersebut, apakah genre cerita yang laris adalah masalah percintaan remaja, horor atau fantasi. Judul-judul menggelitik yang kreatif juga bisa menjadi sarana untuk menarik perhatian pembaca.

3. Silent Reader

Yang melihat sangat banyak sampai ribuan pasang mata, tapi tidak ada satu orangpun yang meninggalkan jejak di kolom komentar. Ini sedikit menyebalkan memang, sebagai penulis tentu kita ingin supaya tulisan kita juga diapresiasi. Munculnya silent reader atau pembaca yang hanya diam  adalah salah satu penyebab insecure para penulis. Untuk mengatasi silent reader, sebagai penulis kita perlu untuk membangun interaksi dengan pembaca. Caranya dengan pembawaan yang asik baik di dalam tulisan maupun saat meninggalkan pesan di akhir tulisan. Topik-topik yang mempunyai dua sudut pandang berbeda juga bisa dipilih untuk menarik pembaca supaya tercipta ruang diskusi.

4. Komentar Pedas

Diterima sudah, dibaca banyak orang sudah, dikomentari juga sudah. Namun dari sekian banyak komentar itu pasti ada satu dua kali para penulis menerima komentar yang pedas. Ini sih yang paling menjatuhkan mental para penulis. Tapi mau bagaimana lagi, sebagai penulis kita tidak bisa mengendalikan jari-jari netizen tidak budiman dalam berkomentar. Cara satu-satunya biar tidak tumbang tanamkan mental kuat untuk menghadapi hujatan dengan tetap mengambil beberapa hal yang masuk kategori kritik.

5. Honor

Berbicara honor memang penulis bukanlah salah satu tipe tertinggi idaman para mertua, terlebih jika statusnya adalah penulis freelance. Penghasilan penulis memang dikategorikan tidak menentu, bahkan untuk kelas penulis paling pro sekalipun. Para penulis novel hanya menerima royalti dari buku yang dijualnya sebesar 10-12%. Angkanya masih bisa tembus 15% jika sudah mempunyai nama besar yang karyanya seliweran di rak paling depan toko buku. Penulis freelance? Jangan ditanya, tidak ada proyekan maka tidak ada cuan yang datang. Itulah mengapa para penulis freelance sangat butuh passive income yang setidaknya bisa menunjang berbagai kebutuhan hidup.